This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 01 Maret 2013

samblen

indonesia orangnya samblen

Selasa, 23 Oktober 2012

Drama




               Disebuah ruang makan, tampak sebuah keluarga yang bersiap bersantap malam. Saemua telah hadir, Ayah ,Ibu dan buah hati mereka yang baru saja masuk sekolah dasar. Piring dan alat makan lainnya ditata rapi. Aroma hidangan mengundang selera siapa saja yang hadir di sana. Diawali doa singkat, mulailahmereka menyantap hidangan malam itu. Di luar, langit bagitu cerah, seakan ikut menyemarakkan keharmonisan keluarga kecil yang sedang bersantap.
               Si kecil rupanya tak tahan ingin bercerita. Mulutnya yang masih penuh makanan ,segerah berucap, “Ayah…ayah, aku punya cerita dari sekolah !”
               Mulut kecil itu belum berhenti mengatup ketika sang Ayah menasehati, “Habiskan dulu makananmu, baru bicara, sayang.” Si kecil mengangguk, dan segera menelan semua makanannya .
              “Ada apa sih , kamu tampak begitu bersemangat?” kata Ayah.
              “Ya, Ayah, aku ikut drama di sekolahanku! Pokok nya Ayah harus datang kalau aku pentas nanti.”
               Ayah tersenyum, “Ohya? Kamu dapat peran apa, jadi putri raja kah? Atau jadi kelinci seperti boneka milikmu?” Ayak tanpak membuat mimik kelinci dengan wajahnya. 
               “Tidak. Aku dapat yang lebih hebat. Aku dapat tugas yang bertepuk tangan!” Ayah dan Ibu saling berpandangan. “Maksudmu? Kamu cuma jadi penonton, begitu?”
               Si kecil sibuk meralat ucapan Ayah , “Bukan. Kata ibu guru , aku yang betugas memberikan semangat buat teman-temanku.” Ada terlihat nada bangga di sana , “Oh iya, ibu Guru juga bilang , peran tak kalah dengan yang lainnya!”
                Kedua orang tuanya tampak tersenyum bangga melihat buah hati mereka. Mereka bangga, memiliki anak yang tetap optimis memandang sesuatu. Mereka bangga, memiliki anak yang berjiwa besar atas apapun yang menjadi tugasnya.
                Banyak orang yang berkata , “dunia adalah panggung sandiwara”. Bisa jadi kata-kata itu benar adanya. Dunia adalah seperti layar yang dikembangkam , tempat kita menonton dan menyimak perilaku bintang-bintang yang sedang berpolah di dalamnya . Dan layaknya panggung sandiwara, ada yang menjadi pemain , ada banyak pulah yang bertugas menjadi penonton. Tapi, apakah dengan menjadi penonton, kita tak bisa berperan dalam panggung-panggung kehidupan itu? Jawabannya mungkin tak sederhana.
  Kita sering bermohon dan meminta kepada Tuhan, agar diberikan peran utama dalam setiap lakon kehidupan. Kita selalu berharap, kitalah yang menjadi bintang drama kehidupan. Kita ingin tersohor , kita juga ingin terlihat mentereng. Tapi, kita juga sering terlupa, bahwa dalam setiap lakon drama, selalu ada pemain dan penonton. Dan sayangnya, kita tak pernah mau untuk menjadi penonton. Kita menolak untuk diatur, kita membantah untuk diarahkan.
  Teman, saya percaya , bahwa sama seperti si kecil tadi , kitapun tak harus bersedih jika mendapakan peran yang tak mentereng. Saya percaya, bisa jadi Sang Maha utradara memberikan kita peran menjadi penonton pada drama hidup yang satu, Tetapi, memberikan peran utama dalam drama hidup yang lainnya. Saya percaya, Sang Maha Sutradara sangat paham dengan ke mampuan “akting” dan  “pentas” yang kita miliki. Saya percaya, Sang Maha Sutradara itu akan Maha Mengerti, kemana arah cerita kehidupan yang kita jalani.***


Batu




               Suatu ketika ada seorang wanita bijak mendaki gunung . Tanpa disengaja ia menemukan sebongkah batu yang sangat berharga. Pualam indah tentu mahal harganya. Dia lalu menyimpan batu itu di tempat makanannya.
                Tak lama berselang , ia bertemu dengan seorang pendaki lain yang sedang kelaparan. Sang wanita membuka kotak makanannya dan membagi bekal tersebut. Si pendaki yang lapar itu melihat batu pualam. Ia bertanya, apakah ia dapat memiliki pualam indahitu.
                 Sang wanita memberikan pualam itu tampa ragu .
                 Sang pendaki tentu senang sekali dengan pemberian ini. Dia bersorak dalam hati dan membayangkan pualam itu akan membuat hadupnya terjamin. Dia pasti tak perlu bersusah payah bekerja dan dapat kaya dengan menjual pualam itu. Dia lalu meminta ijin untuk pergi dan melupakan lapar yang dirasakannya.
                 Namun ,beberapa saat kemudian sang pendaki kembali lagi kepada wanita tadi . Dia lalu berkata , “Aku berpikir pualam ini pasti sangat berharga . Namun akan kukembalikan. Sebab aku berharap kamu dapat memberikan sesuatu yang lebih berharga. Agaknya, aku lebih memerlukan sepotong royi dari pada batu ini. Dan aku ingin tahu satu hal. Tolong ajari aku bagaimana kamu dapat memberikan batu yang sangat berharga ini kepadaku tanpa ragu.”
                  Teman, bisa jadi, tak ada beda antara kita dan si pendaki tadi. Kita kerap melupakan banyak hal untuk sebuah alasan sesaat. Tak jarang kita lebih mengutamakan ketamakan dan nafsu untuk sebuah masa depan. Seringkali ,kita terpesona dengan kemilau “pualam” dan mahalnya “intan” namun melupakan “sepotong roti” dan kebijaksanaan si wanita tadi. Kita yang bodoh ini , sering mengambil langkah dengan terburu-buru , tanpa perhitungan , tanpa memandang jauh ke depan. Yang ada di depan mata hanyalah keuntungan seketika yang akan kita dapat.
                 Kita jarang untuk bersedekah, padahal harta itulah yang akan menolong kita kelak. Kita jarang untuk berbuat baik, padahal kita sama-sama tahu akan ada imbalan dari-Nya nanti . Kita jarang menolong teman dan tetangga dekat, padahal merekalah yang bisa kita minta bantuannya di kala susah . Kita jarang menanam bibit dan benih kebaikan, padahal rindangnya pohon kebajikan itulah yang akan melindungi kita dari terik dan hujan nestapa.
                Sama halnya dengan pendaki tadi , kita memerlikan lebih dari sepotong roti untuk dapat bertahan hidup. Kita butukan lebih dari itu. Kita butukan kebijaksanaan dan kemurahan hati wanita tadi untuk dapat memberikan kebaikan pada setiap orang yang ditemuinya. Dan saya yakin, kita bisa mendapatkannya dalam hidup ini. Allah akan memberi cahaya buat kita . Nah, Teman selamat berbagi…***

Batu dan Bisikan





Ada seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar.
            Di pinggir jalan tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu. Tiba-tiba, sesuatu melintas dari arah mobil-mobil yang diparkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak itu melintas. Aah.., ternyata sebuah batu yang menimpa Jaguar itu. Pintu mobil pengusaha itu tergores.
            Cittt….Ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram., ia mundur ke arah batu dilemparkan. Jaguar yang tergores bukanlah perkara sepele. Apalagi kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha. Amarahnya memuncak. Dia keluar dari mobil dengan tergesa. Ditariknya seorang anak yang paling dekat. Dipojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.
            “Apa yang telah kau lakukan!!! Lihat perbuatannmu pada mobil kesayanganku!!” lihat goresan itu,” teriaknya sambil menunjuk goresan di sis pintu. “Kamu tahu, mobil ini butuh banyak ongkos untuk memperbaikinya,” katanya dengan geram dengan tangan ingin memukul anak itu.
            Anak itu ketakutan. “Maaf, Pak. Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa. Saya melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti….”
            Dengan air mata membasahi pipinya, anak itu menunjuk ke suatu arah dekat mobil-mobil parkir tadi. “Di sana da kakak saya. Ia terjatuh dari kursi rodanya. Aku tak kuat mengangkatnya sendiri. Sekarang dia sednag kesakitan.”
            Kini, anak itu terisak. Nafasnya sedikit tersengal-sengal. Dipandanginya pengusaha tadi. “Maukah Bapak membantu saya mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah.”
            Si pengusaha tak mampu berkata-kata lagi. Kerongkongannya tersa tercekat. Dalam diam, ia segera menuju ke arah yang ditunjuk anak itu. Diangkatnya anak cacat yang tergelak di tanah itu dan didudukkan ke kursi roda. Kemidian denga sapu tangannya yang mahal, ia mengusap luka di litut anak itu. Memar dan tergores, sama seperti pintu Jaguar kesayangannya.
            Setelah beberapa saat, kedua anak itu mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja. “Terima kasih, semoga Tuhan akan membalas perbuatan Anda.” Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.       
            Si pengusaha berjalan sangat perlahan menuju Jaguarnya. Disusurinya jalan itu lambat-lambat sambil merenungkan kejadian yang baru saja melewatinya. Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal yang sepele. Namun, ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat: “Janganlah malaju dalam hidupmu terlalu cepat karena seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”
            Teman, sama halnya kendaraan, hidup kita akan selalu berputar dan dipicu untuk berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan. Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya, untuk melintas sekitar? Tuhan akan selalu berbisik dalam jiwa dan berkata lewat kalbu kita.
            Kadang kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap ujaran-Nya. Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, mamacu hidup dengan penuh nafsu hingga terlpa pada banyak hal yang melintas. Karena itu, Teman, harus ada yang “melemparkan batu” agar kita mau dan bisa berhenti sejenak. Semuanya terserah pada kita: mau mendengar bisikan-Nya atau menunggu lemparan batu yang lebih besar lagi.


Benih



 
Ada pohon rindang. Di bawahnya dua orang yang sedang beristirahat. Tampaknya mereka ayah dan anak. Sang ayah seorang pedagang. Mereka kelelahan sehabis berdagang di kota. Dengan menggelar sehelai tikar, duduklah mereka di bawah pohaon besar itu.
               Angin semilir membuat sang pedagang mengatuk. Namun, tidak demikian dengan anaknya yang belia. “Ayah, aku ingin bertanya…” katanya mengusik ambang sadar ayahnya. “Kapan aku besar, Ayah? Kapan aku bisa kuat seperti Ayah dan bisa membawa dagangan kita ke kota?
               “Sepertinya,” lanjut sang bocah, “aku tak akan besar. Tubuhku ramping seperti ibu, berbeda dengan Ayah yang tegap dan erbadan besar. Kupikir, aku tak akan sanggup memikul dagangan kita jika aku tetap seperti ini.” Jari tangannya tampak mengores-ngores sesuatu di atas tanah. Lalu, ia kembali melanjutkan, “Bilakah aku bisa punya tubuh besar sepertimu, Ayah?”
               Sang Ayah yang awalnya mengantuk kini tampak siaga. Diambilnya sebuah benih dari tanah yang sebelmnya di kais-kais anaknya. Diangkatnya benih itu dengan ujung jari telunjuk. Benda itu terlihat seperti kacang kecil di tangan sang pedagang yang besar. Setelah itu, ia pun berujar ke anaknya.
               “Nak, jangan pernah malu dengan tubuhmu yang kecil. Pandanglah pohon besar tempat kita berteduh ini. Tahukah kamu, batangnya yang kokoh ini dulu berasal daribenih yang skecil ini. Dahan, ranting, dan daunnya juga berasal dari benih yang Ayah pegang ini. Akar-akarnya yang tampak menonjol juga dari benih ini. Dan, kalau kamumenggali tanah ini, ketahuilah, sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah juga berasal dari tempat yang sama.”
               Diperhatikannya wajah sang anak yang tampak tertegun. “Ketahuilah, Nak, benih ini menyimpan segalanya. Benih ini menyimpan batan yang kokoh, dahan yang rindang, daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Dan untuk menjadi sebesar pohon ini, ia hanya mebutuhkan angin, air, dan cahaya matahari yang cukup. Namun jangan lupakan waktu yang membuatnya terus bertumbuh. Pada mereka semualah benih ini berterima kasih karena telah melatihnya menjadi makhluk yang sadar.”
               “Suatu saat nanti kamu akan besar, Nak, jangan pernah takut untuk berharap menjadi besar karena bisa jadi itu hanya butuh ketekunan dan kesabaran.”
               Terlihat senyuman di wajah mereka. Lalu keduanya merebahkan diri, meluruskan pandangan ke langit lepas, membayangkan berjuta harapan dan impian dalam benak. Tak lam berselang, keduanya pun terlelap dalam tidur, melepaskan lelah mereka setelah seharian bekerja.
               Teman, pedagang itu benar. Jangan pernah merasa malu dengan segala keterbatasan. Jangan merasa sedih dengan ketidaksempurnaan. Karena, Allah menciptakan kita penuh dengan keistimewaan. Dan, Allah memang menyiapkan kita menjadi makhluk dengan berbagai kelebihan.
               Mungkin suatu ketika kita pernah merasa kecil, tak mampu, tak berdaya dengan segala persoalan hidup. Kita mungkin sering bertanya-tanya, kapan kita menjadi besar dan mamapu menggapai semua impian, harapan, dan keinginan yang ada di dalam dada. Kita juga bisa jadi sering memebayangkan, bilakah saatnya berhasil? Kapankah saat itu akan datang?
               Teman, kita adalah layaknya benih kecil itu. Benih yang menyimpan semua kekuatan dari batang yang kokoh, dahan yang kuat, serta daun-daun yang lebar. Dalam benih itu pula akar-akar yang keras dan menghujam itu bersal. Namun, akankah Allah membiarkan benih itu tumbuh besar, tanpa alpa dengan bantuan tiupan angin, derasnya angin hjan, dan teriknya sinar matahari?
               Begitupun kita, akankah Allah membiarkan kita besar, berhasil, dan sukses tanpa pernah meresakan ujian dan cobaan? Akankah Allah lipa mengingatkan kita dengan hembusan angin “masalah”, derasnya air “hujan” serta teriknya matahari “persoalan”? Tidak Teman. Karena Allah Mahatahu bahwa setiap hamba-Nya akan menemukan jalan keberhasilan, maka Allah tak akan pernah lupa dengan itu semua.
               Jangan pernah berkecil hati. Semua keberhasilan dan kesuksesan itu telah ada dalam dirimu, Teman.                   


Buku Telepon




Suatu ketika di ruang kelas sekolah menengah, ad percakapan yang menarik. Seorang guru beranya
kepada murid-muridnya, “Anak-anak, kalian sudah sampai di saat-saat terakhir bersekolah disini. Pencapaian terbesar apa yang membuatmu bahagia? Adakah hal besar kalian peroleh?”
            Murid-murid saing pandang. “Ya, ceritakanlah satu hal terbesar yang terjadi dalam hidupmu….” Lagi-lagi semua murid saling pandang. “Nah, kamu yang berkaca mata, adakah hal besar yang kamu temui? Berbagilah dengan teman-temanmu….”
            Sesaat kemudian yang ditunjuk pun bercerita. “Minggu lalu adalah masa terbesar bagiku. Orang tuaku membelikan motor persis seperti yang kuimpikan. Motor sport dengan lampu berkilat. Pasti tak
ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan itu!”
            Sang guru tersenyum. Tangannya menunjuk beberapa murid lain. Terdengarlah beragam cerita.
Ada yang mendapat mobil,ada yang liburan di luar negeri, ada yang bercerita tentang
keberhasilannya mendaki gunung. Hampir semua telah bercerita. Tiba-tiba….
            “Pak Guru, aku belum bercerita.” Rupanya, seorang anak di pojok kanan luput ditunjuk.
Matanya berbinar. Mata yang sama seperti saat anak-anak lainnya bercerita tentang kisah besar mereka. “Maaf, silahkan,” ujar pak guru.
            “Keberhasilan terbesar buatku, dan juga buat keluargaku adalah….saat nama keluarga kami tercantum di buku telpon yang terbit 3 hari lalu.”Terdengar tawa memenuhi ruangan mendengar cerita
itu. Ada yang berkomentar,” Hah? Betapa menyedihkan! Aku sudah sejak lahir menemukan nama
keluarga di buku telpon.” “Itu sih bukan hal besar!”
            pak guru menengahi situasi. “Silakan teruskan, Nak”
            “Memang itulah kebahagiaan terbesar yang pernah aku dapatkan. Dulu, ayahku bukanlah orang baik-baik. Karenanya, kami tak pernah bisa menetap karena selalu dikejar polisi.” Matanya tampak menerawang. Ada bias pantulan cermin di kedua bola matanya.
            “Kini Ayah telah beribah.Dia menjadi ayah yang baik buat keluarga.Tentu itu ukan tanpa waktu
dan usaha. Apalagi, tak ada bank dan yayasan yang mau memberi pinjaman modal buat bekerja. Hingga setahun lalu, ada sesorang yang rela melakukannya. Dan kini ayah berhasil. Bahkan, ayah bias membeli sebuah rumah kecil. Kami tak perlu berpindah-pindah lagi.”
            “Tahukah kalian apa artinya kalau nama keluargamu ada di buku telepon? Itu artinya aku tak perlu lagi terjaga di malam hari untuk buron. Itu artinya aku tak perlu lagi kehilangan teman-teman yang aku sayangi. Aku juga tak harus tidur di mobil di udara dingin. Dan itu artinya aku, dan juga keluargaku, sederajat dengan keluarga-keluarga lainnya.” Matamya kembali menerawang. Ada bulir bening yang mengalir. “Itu artinya akan ada harapan-harapan baru yang aku dapatkan nantinya….”
            Kelas terdiam. Pak Guru tersenyum haru. Murid-murid tertunduk. Mereka baru saja menyaksikan sebuah fragmen tentang kehidupan. Mereka juga baru saja mendapatkan hikmah tentang pencapaian besar dan kebahagiaan. Mereka juga belajar satu hal: “Bersyukurlah dan berbesar hatilah setiap kali mendengar keberhasilan orang lain. Sekecil apapun. Sebesar apapun.”
            Teman, ada banyak hal-hal besar yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Kita sering membanding-bandingkannya. Kita juga sering tergoda untuk iri pada setiap keberhasilan orang itu lebih sedikit dari yang kita dapatkan.
            Padahal, kebahagiaan dan pencapaian terbesar itu tidak bisa kita hitung dengan timbangan atau lewat tabel dan diagram seperti statistik sensus ekonomi. Bukan cara itu yang kita pakai, seba ukurannya sangat luas dan melintasi batas. Kebahagiaan terbesar bagi seseorang juga mungkin durian runth bagi orang lain.
            Maka, bersyukurlah atas setiap nikmat, berkah, keleluasaan, waktu, serta kesempatan seremeh apa pun yang kita terima. Karena, tak ada yang sepele dalam kamus Tuhan.