Disebuah ruang makan, tampak sebuah
keluarga yang bersiap bersantap malam. Saemua telah hadir, Ayah ,Ibu dan buah
hati mereka yang baru saja masuk sekolah dasar. Piring dan alat makan lainnya
ditata rapi. Aroma hidangan mengundang selera siapa saja yang hadir di sana.
Diawali doa singkat, mulailahmereka menyantap hidangan malam itu. Di luar,
langit bagitu cerah, seakan ikut menyemarakkan keharmonisan keluarga kecil yang
sedang bersantap.
Si
kecil rupanya tak tahan ingin bercerita. Mulutnya yang masih penuh makanan
,segerah berucap, “Ayah…ayah, aku punya cerita dari sekolah !”
Mulut
kecil itu belum berhenti mengatup ketika sang Ayah menasehati, “Habiskan dulu
makananmu, baru bicara, sayang.” Si kecil mengangguk, dan segera menelan semua
makanannya .
“Ada
apa sih , kamu tampak begitu bersemangat?” kata Ayah.
“Ya,
Ayah, aku ikut drama di sekolahanku! Pokok nya Ayah harus datang kalau aku
pentas nanti.”
Ayah
tersenyum, “Ohya? Kamu dapat peran apa, jadi putri raja kah? Atau jadi kelinci
seperti boneka milikmu?” Ayak tanpak membuat mimik kelinci dengan
wajahnya.
“Tidak. Aku dapat yang lebih hebat. Aku dapat tugas yang bertepuk
tangan!” Ayah dan Ibu saling berpandangan. “Maksudmu? Kamu cuma jadi penonton,
begitu?”
Si
kecil sibuk meralat ucapan Ayah , “Bukan. Kata ibu guru , aku yang betugas
memberikan semangat buat teman-temanku.” Ada terlihat nada bangga di sana , “Oh
iya, ibu Guru juga bilang , peran tak kalah dengan yang lainnya!”
Kedua orang tuanya tampak
tersenyum bangga melihat buah hati mereka. Mereka bangga, memiliki anak yang
tetap optimis memandang sesuatu. Mereka bangga, memiliki anak yang berjiwa
besar atas apapun yang menjadi tugasnya.
Banyak
orang yang berkata , “dunia adalah panggung sandiwara”. Bisa jadi kata-kata itu
benar adanya. Dunia adalah seperti layar yang dikembangkam , tempat kita
menonton dan menyimak perilaku bintang-bintang yang sedang berpolah di dalamnya
. Dan layaknya panggung sandiwara, ada yang menjadi pemain , ada banyak pulah
yang bertugas menjadi penonton. Tapi, apakah dengan menjadi penonton, kita tak
bisa berperan dalam panggung-panggung kehidupan itu? Jawabannya mungkin tak sederhana.
Kita
sering bermohon dan meminta kepada Tuhan, agar diberikan peran utama dalam
setiap lakon kehidupan. Kita selalu berharap, kitalah yang menjadi bintang
drama kehidupan. Kita ingin tersohor , kita juga ingin terlihat mentereng.
Tapi, kita juga sering terlupa, bahwa dalam setiap lakon drama, selalu ada
pemain dan penonton. Dan sayangnya, kita tak pernah mau untuk menjadi penonton.
Kita menolak untuk diatur, kita membantah untuk diarahkan.
Teman, saya percaya , bahwa sama seperti si kecil tadi , kitapun tak
harus bersedih jika mendapakan peran yang tak mentereng. Saya percaya, bisa
jadi Sang Maha utradara memberikan kita peran menjadi penonton pada drama hidup
yang satu, Tetapi, memberikan peran utama dalam drama hidup yang lainnya. Saya
percaya, Sang Maha Sutradara sangat paham dengan ke mampuan “akting” dan “pentas” yang kita miliki. Saya percaya, Sang
Maha Sutradara itu akan Maha Mengerti, kemana arah cerita kehidupan yang kita
jalani.***






0 komentar:
Posting Komentar